Selasa, 22 Oktober 2013

About Novel Pintu Harmonika by Clara Ng & Icha Rahmanti




Ini tiga kisah tentang manusia yang harus tinggal di ruko. Di lantai atas kehidupan dan di lantai dasar penghidupan.

Cerita pertama datang dari ruko paling ceria karena hubungan akrab dan hangat antara Rizal, sang anak, dan Firdaus, sang ayah. Namun di balik keakraban ini, Rizal tidak mampu menjadi dirinya sendiri di dunia maya. Permasalahan timbul saat dia jatuh cinta dengan Cynthia, siswi cantik nan idealis serta mandiri, dan ia harus membantu Cynthia menggalang dana untuk kompetisi tari sekolahnya. Untuk menarik perhatian Cynthia, Rizal memanfaatkan kepopuleran dan pesonanya untuk penggalangan dana, serta dalam waktu bersamaan terus berbohong tentang keluarganya

Cerita berikutnya dibuka dengan Juni, gadis di bangku SMP, dan Niko sang ayah, yang sedang membuka pintu rukonya.
Berbeda dengan Rizal, hubungan Juni dan Niko dingin. Juni memang tidak pernah merasa betah di rumah. Niko sang ayah
hanya memikirkan pekerjaan. Juni melampiaskan semuanya di sekolah dengan membully adik kelas. Namun kelakuan Juni
dalam bullying sudah kelewat batas, saat adik kelasnya, Manda, jatuh tersungkur. Padahal Manda adalah anak Kukuh,
pelanggan setia Niko yang baru saja memesan 10 lusin baju, dengan opsi tambahan 10 lagi jika kantornya menyetujui.
Juni harus berhadapan dengan keluarganya dan usaha keluarganya yang terancam bangkrut

Cerita terakhir ada di dalam ruko milik Imelda. Perempuan awal 30-an ini tinggal bersama David anaknya yang masih
kelas 3 SD. Toko Imelda itu sebenarnya cukup terkenal dengan kue malaikatnya. Strategi pemasaran lewat Facebook
 juga lumayan berjalan. Hanya saja pelanggannya berkurang jauh karena Imelda tidak bisa membuatkan senyum pada setiap kue malaikat yang ia buat. Seperti kuenya, senyum seperti sudah hilang dari wajah Imelda. Ia lebih banyak melamun, seperti putus asa menjalani kehidupannya, atau kembali menonton permainan piano David, anak semata wayangnya. Imelda sendiri ingin terus menjadi ibu yang baik bagi David dengan segala rutinitasnya, tapi selalu terasa ada jarak dengan David. Semua makin membingungkan ketika Imelda sering mendengar suara-suara aneh di atas rukonya dan David ketakutan. Imelda berusaha menjalani dan menyelesaikan semuanya, walaupun semuanya semakin buntu baginya.

Ini Pun Akan Berlalu

seorang petani kaya mati meninggalkan kedua putranya. sepeninggalan ayahnya, kedua putra ini hidup bersama dalam satu rumah. sampai suatu hari, mereka bertengkar dan memutuskan untuk berpisah dan membagi dua harta warisan ayahnya.
setelah harta terbagi, masih tertinggal satu kotak yang selama ini disembuyikan oleh ayah mereka. mereka membuka kotak itu dan menemukan dua buah cincin didalamnya, yang satu terbuat dari emas bertahtakan berlian dan yang satu terbuat dari perunggu murahan.
melihat cincin berlian itu, timbullah ketamakan sang kakak, dia menjelaskan, " kurasa cincin ini bukan milik ayah, namun warisan turun-temurun dari nenek moyang kita. oleh karena itu, kita harus menjaganya untuk anak-cucu kita. sebagai saudara tua, aku akan menyimpan yang emas dan kamu simpan yang perunggu. "
sang adik tersenyum dan berkata, " baiklah, ambil saja yang emas, aku ambil yang perunggu. " keduanya mengenakan cincin tersebut dijari masing-masing, lalu berpisah. sang adik merenung, " tidak aneh kalau ayah menyimpan cincin berlian yang maha itu, tetapi kenapa ayah menyimpan cincin perunggu murahan ini? " dia mencermati cincinnya dan menemukan sebuah kalimat terukir dicincin itu : INI PUN AKAN BERLALU. "oh, rupanya ini mantra ayah ..., " gumamnya sembari kembali menggunakan cincin tersebut
waktu berlalu.... kakak-adik tersebut mengalami jatuh-bangunnya kehidupan. ketika panen berhasil, sang kakak berpesta-pora, bermabuk-mabukan, lupa daratan. ketika panen gagal, dia menderita tekanan batin, tekanan darah tinggi, berhutang sana-sini. begitulah yang terjadi dari waktu ke waktu, sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan dbatinnya, sulit tidur, dan mulai memakai obta-obatan penenang. akhirnya, dia terpaksa menjual cincin berliannya untuk membeli obat-obatan yang membuatnya ketagihan.
dipihak lain, ketika panen berhasil, sang adik mensyukuri, tetapi dia teringatkan oleh cincinnya : INI PUN AKAN BERLALU. jadi dia pun tidak menjadi sombong dan lupa daratan. ketika panen gagal, dia juga ingat bahwa : INI PUN AKAN BERLALU, jadi dia pun tidak larut dalam kesedihan. hidupnya tetap saja naik-turun , kadang berhasil kadang gagal, dalam segala hal, namun dia tahu bahwa segala sesuatu tiada yang tetap adanya, apapun yang muncul, pasti akan berlalu. dengan menembus kebijaksaan ini, dia tidak pernah kehilangan keseimbangan batinnya. dia hidup tenteram, hidup seimbang, hidup bahagia.



"Apakah para Buddha muncul ataupun tidak, selalu ada dialam semesta ini hukum alam, hubungan terkondisi sebab-akibat, suatu keadaan yang pasti, suatu kenyataan yang tidak berubah, bahwa segala yang berbentuk tidaklah tetap, segala yang terbentuk tidaklah memuaskan, dan segala sesuatu adalah tanpa inti-diri." (Anguttara Nikaya I,286)